MekarBooks

Meniti Arti: Bertukar Makna Bersama "Saksi & Rekan Sezaman" tentang Perang Kemerdekaan Indonesia

Oleh Eveline Buchheim , Satrio Dwicahyo , Fridus Steijlen & Stephanie Welvaart

Non Fiction

Mengendarai sepeda motor, saya berangkat menuju sebuah kampung yang terletak tak jauh dari Batu Merah di Kota Ambon. Kepergian saya ke sana membawa maksud untuk menemui Pak Edi Kuncoro dan berbincang tentang pengalamannya berjuang melawan Belanda di kurun tahun 1945-1949. Pak Edi sebetulnya bukan asli Maluku, melainkan berasal dari Solo di pulau Jawa. Apakah sesungguhnya yang mendorong Pak Edi untuk turut berjuang? Sederhana, akunya. Selepas Jepang kalah, kami kembali merdeka untuk mengurusi hidup kami sendiri. Namun, tiba-tiba kami dengar bahwa Belanda membonceng Inggris dan hendak mempersenjatai orang-orang mereka yang masih ditahan di kamp Jepang di Ambarawa. Tentu saja kami dan segenap penduduk Indonesia tak bisa tinggal diam. Syahdan, berjuanglah Pak Edi untuk turut membela kemerdekaan. Perjuangan kemerdekaan di Indonesia antara tahun 1945 dan 1949 telah meninggalkan jejaknya, baik secara tersirat maupun tersurat. Melalui gambar dan teks, penulis mengajak menelusuri orang, benda, dan tempat di Indonesia dan Belanda. Buku bilingual Indonesia/Belanda ini berfokus pada pengalaman pribadi warga sipil dan personel militer yang berdiri tanpa jarak dengan konflik yang terjadi. Karya ini mempertimbangkan bagaimana orang-orang dari kedua negara melihat kembali waktu itu dan bagaimana kenangan itu tetap hidup. Melalui cara ini, penulis membawa kembali dimensi manusia dalam sejarah yang menarik.

Bahasa: Bahasa Indonesia

Penerbit: gpu

Pertanyaan Umum

Apa isi buku Meniti Arti?

Buku ini menelusuri orang, benda, dan tempat di Indonesia dan Belanda melalui gambar dan teks, berfokus pada pengalaman pribadi warga sipil dan personel militer yang mengalami langsung Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949.

Siapa penulis buku ini?

Buku ini ditulis oleh Eveline Buchheim, Satrio Dwicahyo, Fridus Steijlen, dan Stephanie Welvaart, dan diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan Amsterdam University Press.

Siapa yang cocok membaca buku ini?

Buku ini cocok untuk peminat sejarah Indonesia-Belanda, akademisi, dan pembaca yang ingin memahami bagaimana memori kolektif tentang perang kemerdekaan masih hidup hingga kini di kedua negara.